Dalam derai-derai cemara Chairil
menulis bahwasannya hidup hanya tentang menunda kekalahan. Kita yang Berjaya,
kuat, berkuasa, dan kadang lupa bahwasannya dunia ini berputar pada akhirnya
akan mengalami satu masa dimana raga, jiwa dan seluruh unsur di dalam tubuh
terasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Akan datang masanya setiap diantara kita
merasakan kekalahan yang benar-benar telak. Hancur berantakan, tanpa daya. Dan
puncak dari kekalahan kita bernama kematian.
Kita yang tak bisa melawan waktu,
kita yang pasrah akan kehendak maut, kita yang tak bisa lari dan harus
menyerahkan diri sepenuhnya pada kuasa ghaib. Tak mampu menentang, tak mampu
berkelit. Jadilah kita sebagai yang terhempas, dan yang putus.
-
Rabu 28 September
Zaman ini sudah menjadi zaman yang gila
Mereka yang tidak ikut menjadi gila dianggap gila
Namun bersyukurlah mereka yang tidak menjadi gila
Karena seberuntung-beruntungnya orang di zaman yang gila
Adalah mereka yang tidak ikut gila.
Seperti dalam sajak Chairil
Anwar; waktu jalan, aku tak tahu apa
nasib waktu. Zaman yang terus bekembang dengan segala kemajuannya.
Inovasi-inovasi baru yang membuat hidup semakin praktis. Teknologi yang tak
diam di tempat. Pengetahuan dan ilmu-ilmu baru yang semakin mewarnai jalannya
kehidupan manusia di dunia yang renta membuka mata saya, betapa globalisasi
telah benar-benar merambah setiap lapis kehidupan manusia di muka bumi ini.
Pembangunan-pembangunan terus
dilaksanakan tanpa henti. Gedung-gedung pencakar langit, investasi asing, dan
masyarakat ekonomi Asean. Arus pertukaran informasi yang di dukung perkembangan
IT semakin menjadikannya cepat. Dunia pun benar-benar terasa tanpa batas.
Namun inilah kehidupan. Ada
positif tentu negatifnya pun ada. Kemajuan-kemajuan zaman yang begitu pesatnya
mengakibatkan disintegrasi sosial di bebarapa daerah. Penyebabnya pasti, kurang
siapnya masyarakat yang bersangkutan dengan efek-efek globalisasi. Pemfilteran
input pengaruh asing pun menjadikan tatanan sosial di lingkungan tersebut
amburadul.
Kehidupan makin tak terkendali.
Masyarakat lepas kontrol. Dunia semakin gila, penduduknya pun demikian. Ah,
rasa-rasanya kiamat tinggal menghitung hari.
-
Kamis 29 September
Efek globalisasi, tatanan sosial
yang mulai bergeser, norma dan nilai-nilai luhur yang semakin memudar dalam
kehidupan bermasyarakat. Yang benar disalahkan, yang salah diagung-agungkan
sebagai suatu kebenaran. Penilaian akan
sesuatu semakin absurd saja. Bahkan dogma agama dinilai kampungan, tak selaras
dengan kehidupan zaman sekarang (untuk relalita terkahir, sejenak perkenankan
saya mengusap dada terlebih dahulu).
Jujur saja, untuk saat ini saya
tak memiliki seorang pacar. Jomblo,
demikianlah mereka menyebutnya. Namun saya tak memiliki masalah akan hal itu.
Bagi saya hidup tanpa pacar membuat hidup terasa lebih leluasa, lebih bebas dan
tak terikat (meskipun di suatu waktu hati kecil saya juga menrindukan seorang
wanita sebagai pacar sebab beberapa alasan tertentu). Jika pun menilk pada
ajaran agama, keputusan saya untuk tidak berpacaran sangat di benarkan. Nilai
dan norma sosial pun menganjurkan hal yang demikian mengingat banyaknya dampak
negatif dari berpacaran.
Namun sayangnya penilaian seperti
itu tidak berlaku bagi pemuda masa sekarang. Kejombloan dipandang sebagai sesuat yang hina. Sesuatu yang amat di
jauhi layaknya kutukan. Mereka berlomba-lomba mencari pasangan yang memenuhi
kriteria nafsunya. Tujuannya jelas, yang pertama sebagai pamer. Karena pacar di
zaman ini menentukan status sosial seseorang. Dan yang kedua adalah alat
pelampias nafsu.
Sudah jadi rahasia umum bahwa pacaran
zaman sekarang bukan sekedar pengenalan anatar personal. Lebih dari itu, para
pemuda-pemudi seakan merasa belum afdhol berpacaran jika belum berciuman. Dan
ciuman hanya langkah pertama untuk melakukan tindakan-tindakan asusila lainnya dengan
alasan suka sama suka.
Lucu memang, tindakan yang berada
diluar noma agama dan sosial malah dibenarkan secara tidak langsung oleh
generasi edan ini. kebejatan-kebejatan yang terjadi mulai dimaklumi, sebaliknya
kebenaran malah menjadi suatu yang asing bagi mereka.
Dunia benar-benar sudah gila!
-
Jumat 30 September
Angin menderap langkah kecil
seolah malam takut terusik.
Di pelabuhan mati, ombak memanggil
dan kopi mulai berbisik:
-Jejak langkah waktu masih terbaca
kapal-kapal yang tak lagi bertambat
menoreh luka
di dada pelabuhan
yang kumuh berkarat
kemudian hening singgah sejenak
ku lihat sepasang muda
bercumbu dalam gelap. Tiada jarak
antara pengap dan gejolak darah
remaja
Kemudian seperti malam biasanya
seseorang yang jauh singgah kembali
dalam hati, mendebarkan dada.
Dan dapat ku pahami. Ada rindu disini
Ku telusuri malam sekali lagi
serenade ombak menggiring waktu.
Gigil mulai terasa, rindu apa lagi.
Aku jengah, pendar lampu kapal membuyarkanku.
Sungguh,
rindu datang tanpa kenal waktu
Sungguh,
rindu datang tanpa kenal waktu
-
Sabtu 1 Oktober
Malam minggu yang ideal. Hujan
turun dan angin berhembus dengan manja. Ada kopi disini, buku dan beberapa
batang rokok yang saya kira-kira akan cukup untuk melewati malam yang agaknya
akan dingin, sunyi dan indah ini.
Sebenarnya malam ini bertepatan
dengan malam pergantian tahun baru dalam kalender hijriah. Beberapa festival
dan acara sudah siap meramaikan malam ini. sebut saja festifal parade yang
rencananya diadakan di Kamal. Namun,
hujan begini bagaimana bisa. Semua acara pasti dibatalkan.
Benar, manusia yang berkehendak
namun Tuhan yang menentukan. Tuhan Maha tahu, Dia tahu apa yang terbaik untuk
semua hambanya. Sebaik apapun maksud dan rencana yang kita bangun, jika Tuhan
tak berkehendak maka tak akan pernah terjadi. Barangkali Dia yang Maha Pemurah
dan Maha Baik telah merencanakan sesuatu yang lebih indah di lain waktu,
sesuatu yang lebih istimewa.
Hujan turun tak begitu besar,
malah makin tinggal gerimis. Tapi setidaknya sunyi masih ada disini menemani
saya, segelas kopi dan beberapa gelintir tembakau.
-
Minggu 2 Oktober
“Saya adalah tipe orang yang
menantikan datangnya hari minggu. Meskipun ketika hari itu tiba kemungkianan
terbesarnya saya tidak melakukan apa-apa selain tidur dan bermalas-malasan
sampai sore, kemudian menyesal karena tidak melakukan apa-apa di hari itu”- pk
Pelan-pelan saya mulai mengerti
mengapa ada orang yang nekat mengakhiri hidupnya. Saya mulai mengerti bagaimana
kejenuhan amat pengap terasa, rutinitas dan lain sebagainya. Saya pun
sedikit-sedikit memahami bagaimana kesunyian tiba meninju-ninju dada.
Akhir pekan yang biasa-biasa
saja, menjemukan lebih tepatnya. Sebenarnya saya tidak jauh berbeda denngan
pemuda kebanyakan. Senang mencari hiburan, senang jalan dan bersenang-senang.
Namun dengan keadaan dompet yang miris sekali
bagaimana mungkin saya melakukan hal itu.
Di dunia ini memang tak semuanya
tentang uang, uang bukanlah segalanya. Akan tetapi di zamana yang entah
bagaimana saya harus menyebutnya, rasa-rasanya semua butuh uang.
-
Senin 3 Oktober
Dalam hal
agama, begitu banyak hal-hal yang berada diluar akal sehat. Sulit di nalar
logika dan di jangkau oleh pikiran. Beberapa hal mistik, ghaib yang irasional
menjadi ujian bagi para pemeluk teguh. Surga dan neraka, pahala dan dosa,
jodoh, cinta, kematian dan takdir.
Keberadaan malaikat,
jin dan iblis serta aktivitas mereka. Wujud-wujudnya yang absurd serta mencengangkan.
Belum lagi mengenai Tuhan itu sendiri. Wujudnya, keberadaanya, pekerjaannya dan
lain sebagainya.
Mungkin sampai
kepala pening tak kan kuasa kita memikirkan validitas mengenai hal-hal di atas.
Sampai mati kita menerka-nerka
penggambaran malaikat, keberadaan surga dan derajat api neraka. Toh seperti
yang di sampaikan para filsuf dan pemuka agama, Tuhan ada bersama kita, selalu,
dan ia dekat, amat dekat.
Untuk masalah
ini saya angkat tangan, manut saja. Ikuti kata orang-orang yang lebih tua. Percaya
saja, iman istiahnya. Mungkin disini letak pentingnya sebuah iman. Ketika logika
tak mampu mencerna, iman lah yang bicara.
Keyakinan memang
harus selalu dikedepankan. Seperti kata pepatah, keyakinan adalah hal yang
utama. Maka dari itu, mau tidak mau saya harus mayakini satu dari beberapa
pilihan. Saya bukan atheis, saya percaya Tuhan. Dengan modal iman atau
kepercayaan kepada Tuhan itulah saya mempercayai hal-hal lain yang berhubungan
dengannya.
Karena sekali
lagi, Ketika logika tak mampu mencerna, iman lah yang bicara.