Lang zal hij/ze leven, In de gloria, In de gloria, In de gloria! Jakarta Terus Berubah, Tetapi Aku Tetap bulan yang redup kan tiba menyinari dadamu seperti pualam maka tunggulah sebentar sebab, meski jakarta terus berubah aku masih tetap kata rindumu masih di sini tumbuh jadi belantara sesak tempat burung-burung bercinta kau tak perlu risau padaku meski kota ini terus berubah aku masih tetap: tualang majnun yang mengembara yang tersesat yang meminta mati bahagia di ikat belukar kata rindumu Mon Amour aku pergi, cinta, menuju kota yang ta…
kita akan bertemu lagi, dik di telang. di suatu hari, di bawah naung pohon bakau tepat sebelum matahari tenggelam di ujung tambak ikan dengan sungai kecil yang mengalir di belakang gubuk sambil menyesap masa lalu untuk sekali lagi kita akan pergi ke warung-warung kopi singgah dan menyeduh debur ombak yang selalu datang dari arah selatan dengan amis laut air mata para kekasih catatlah, dik. di telang tunggulah aku di pertigaan seperti biasa karena sebelum musim panen kedua aku akan tiba membawa sekeranjang cerita untuk digelar bersama kabar m…
ada baiknya kita menepi sejenak menyalai rokok atau menyeduh secangkir kopi lebih-lebih menyanyi, kau ingat seperti dulu lagi karena sungguh mati rindu itu ada, benar ia nyata dan terasa menyalak-nyalak saban hujan atau ketika malam tiba jika sudah begini hanya waktu yang akan bersiul tenggelam dan timbul menampilkan masa sebelum kemacetan atau bilangan omzet dan insentif mengisi kepala ya, kepalaku yang kering kepala yang tak sempat membayangkan bagaimana warna langit di kaki bukit atau su…
Puisi-puisi ini saya tulis sebagai kado, penghargaan, permohonan maaf dan rasa terima kasih, serta permintaan tolong kepada mereka yang memliki tempat khusus di dalam hidup saya. Meraka, yang dalam istilah Gie, pernah baik, pernah mesra dan simpati pada saya. Terakhir, meminjam istilah Virgiawan Listanto, semoga damai kami sepanjang hari .
Tiada Percakapan Untuk Ach. Yusuf dan kisah cintanya Kita tidak lagi bicara mengenai bulan merah jambu seperti malam-malam dulu. Ada sesuatu yang ghaib menahan saya dalam isyarat musykil diantara lorong dan belenggu setia atas nama cinta dan perkawanan. Mengapa kamu sempat menagis saat saya melebur bersama pekat malam serta dinginnya udara? Adakah rindumu selalu untuk saya seperti Percakapan yang sempat kita bisikkan pada embun yang basah dan udara yang setia menjemput kabarmu kepada say…
Membaca Nyanyian Angsa Jam tujuh malam, matahari kelabu terang dimatamu Ombak mendebur, melaju jauh berpasang-pasang Bersahut-sahut, sampai deru nafasmu tiba padaku ”Aku bukan Maria zaitun” getir ucapmu. Bising jalan dan hirup pikuk Surabaya Meminang dan mendekapmu begitu erat Begitu hangat seperti kau dekap aku malam itu Di pinggir rel, kala luka hatiku. Engkau adalah kejujuran yang tersisa Engkau suci, takdir yang melemparmu kemari Lingkungan berdebu, bau pesing dan alkohol Dan ketakutan-ketakutan…
Aku penyair miskin tetapi kekasihku cinta -Wijhi Tukul I Sembari menunggu waktu ku timang kabar rembulan. Masihkah hilang separuh sinarnya atau sudah terganti, genap bulat kembali?
google.com Untuk sesorang yang membuatku merasa sepi malam ini I Ku tulis puisi ini ketika malam bulat genap Langit yang kelam serta angin malas beringsut Dalam gelisah hatiku berkata Bagaimana kalau ku tulis kata-kata romantis untukmu saja?
Polisi Siapa percaya polisi disini Ada motor yang hilang mereka tenang-tenang Ngopi, merokok basa-basi tanya ini-itu Dan kerja bikin selembar surat keterangan saja
faceyourmanga.com Bajingan yang Disayang Tuhan Ku hitung bunga-bunga yang ku petik silam, yang ku tinggalkan kala sepah dan layu di genggam tangan
Social Plugin